…kriiik…kriiik…kriiik…
…pada suatu masa, dimana semua terasa sangat samar, bahkan sinar mataharipun tak mampu menerangkan segala sesuatu yang kini memburam, dimana semua gejala-gejala akan apa yang selama ini aku takutkan mulai nampak dan menjatuhkanku lebih dalam dari jurang yang pernah ada, tulisan tanpa makna, kekosongan dalam setiap kata, memaksa untuk ditulis walau susah untuk dicerna, bagai batu yang direbus sekian lamanya namun tetap saja keras dan tak mungkin bisa digunakan untuk menggantikan nasi yang selama ini dimakan, debu-debu tetap beterbangan, angin panaspun masih tetap berkeliaran, kehampaan menabur sepi tak berujung, keeceriaan semu terus berakting seolah hidup tiada duka, tanpa cela yang mulai mengeropos, tertendang rasa iri akan kehidupan, mengoyak tubuh rapuh penuh hina dan dosa, tak mampu lagi bertindak, walau jiwa berontak, terperosok lebih jauh dalam indahnya rayuan pulau kelapa, tanpa tanding meski bersuara nyaris tak berbenging…